Ganti Tahun, Nilai Aset Tanah Pemkab Sampang Susut Rp100 Miliar

  • Whatsapp

KABAR SAMPANG | Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Sampang mencatat, pada tahun 2019, total aset berupa tanah yang tersebar di wilayah Sampang bernilai  Rp1,156 triliun. Namun pada tahun 2020, justru terjadi penyusutan nilai sekitar Rp100 miliar.

Kondisi tersebut dicurigai aktivis Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim) Koorda Sampang. Sebab, aset berupa tanah semestinya terus mengalami kenaikan setiap tahunnya, bukan sebaliknya. 

Bacaan Lainnya

Di sisi lain, kata Ketua Jaka Jatim Koorda Sampang Busiri, Pemkab Sampang selalu menganggarkan pengadaan tanah untuk pembangunan. Tetapi anehnya, nilai aset tanah tersebut justru terus menyusut. Sehingga dia menduga, inventarisasi aset itu tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya.

“Penyusutan nilai aset tanah ini, perlu kita telusuri lebih lanjut, karena hampir setiap tahun pemkab selalu menganggarkan untuk pengadaan lahan baru, tapi aneh nilai asetnya malah terus berkurang,” ungkap kepada Kabar Madura.

Jika ada proses hibah tanah dari pemkab kepada lembaga atau pihak lain, menurut Busiri, seharusnya dilakukan secara transparan, agar diketahui oleh masyarakat luas. Bahkan sebelum menghibahkan, menurut pandangannya, pemkab harus mengkaji terlebih dahulu, baik dari sisi manfaat atas tanah tersebut dan hal-hal lain yang dianggap penting bagi penerima dan pemberi hibah tersebut. 

“Kami harap adanya penyusutan nilai aset ini bukan disebabkan oleh kelalaian BPPKAD dalam menginventarisir aset, tapi memang dihibahkan untuk kepentingan yang lebih besar dan lebih bermanfaat kepada masyarakat luas,” ulasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Aset BPPKAD Sampang Bambang Indra Basuki menjelaskan, terjadinya penyusutan nilai itu merupakan hal yang wajar, karena disebabkan beberapa faktor, salah satunya adanya aset tanah yang dihibahkan dengan berbagai pertimbangan.

Jadi berkurangnya nilai aset tanah itu bukan karena penyusutan barang, terang Bambang, karena aset tanah tidak menyusut. Kondisi itu berbeda dengan dengan barang lainnya. 

“Lebih tepatnya bukan penyusutan, tapi penurunan nilai aset tanah dari tahun 2019 ke 2020 yang disebabkan karena adanya koreksi catatan atas harga perolehan oleh BPK dan adanya hibah/wakaf tanah ke Masjid Agung Sampang,” terangnya.

Reporter: M. Subhan

Redaktur: Wawan A. Husna

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *