Warga yang Gelar Orkes Divonis Denda Rp2,5 Juta

  • Whatsapp
Pelaksana hajatan yang mengundang kerumunan di Desa Jeruan, Kecamatan Kedungdung Sampang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Sampang. (Foto: Fathor Rahman)

KABAR SAMPANG | Pengadilan Negeri (PN) Sampang kembali melaksanakan sidang tindak pidana ringan (Tipiring) kasus pelanggaran protokol kesehatan (Prokes) Covid -19. Dua orang yang diduga otak pembuat kerumunan divonis bersalah dan diwajibkan membayar denda.

Terpidana Suman dan Feri Cahyono divonis bersalah oleh Hakim tunggal Juanda Wijaya yang didampingi Panitera Moh. Tohir  saat membacakan putusan. Keduanya terbukti bersalah telah melaksanakan hajatan dan mengadakan tontonan musik dangdut yang mengundang banyak massa yang berkerumun.

Bacaan Lainnya

Terpidana Suman adalah tuan rumah pelaksana hajatan mantan pernikahan. Sementara Feri Cahyono adalah  pemilik hiburan orkes dangdut AZ Syifa. Keduanya dinyatakan melanggar perbup pasal 7 tahun 2020. Mereka harus membayar denda sebesar Rp 2,5 juta atau diganti hukuman penjara selama sebulan.

Sedangkan Feri Cahyono divonis denda sebesar Rp1 juta. Denda bisa diganti dengan kurungan penjara selama 18 hari.

Hakim Pengadilan Negeri Sampang Juanda Wijaya mengatakan, kedua terpidana adalah pihak yang terbukti bersalah, sesuai pasal 7 tahun 2020 tentang penerapan prokes. Keduanya terbukti dan mengakui menggelar hajatan disertai hiburan dangdut dengan panggung besar.

“Sehingga kami menjatuhkan vonis denda Rp 2,5 juta untuk tuan rumah. Sementara pemilik hiburan didenda Rp 1 juta,” katanya.

Dijelaskan, jika denda bisa tidak dibayar, kedua terpidana harus menjalani masa hukuman. Yakni selama sebulan dan 18 hari. Sidang ini adalah sidang kesekian kali soal pelanggaran prokes.

Di lokasi persidangan, Moh Muklis, salah satu perangkat desa Jeruan mengaku pihaknya sudah melakukan sosialisasi terkait PPKM darurat. Namun, ternyata masih ada yang menggelar hajatan pernikahan lengkap dengan hiburan dangdut.

“Warga sudah kami larang melaksanakan pesta hajatan. Apalagi dengan diselingi hiburan orkes dangdut. Sehingga, hal ini adalah tanggung jawab mereka sendiri,” ucapnya.

Dia mengaku sebelum kegiatan berlangsung, tuan rumah tidak melakukan pemberitahuan kepada aparat desa. Sehingga, tidak dilakukan antisipasi. Akibatnya, kasus itu terlacak pihak kepolisian dan Satgas Covid-19.

“Justru saya tahu ada pesta pernikan karena viral di media sosial (medsos). Kemudian kami selidiki dan ternyata di desa kami, yakni warga di Dusun Burnih, Desa Pajeruan,” ungkapnya. (man/nam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *