Dua LSM Sebut Polisi Lelet Tangani Kasus

  • Whatsapp
Aktivis dan keluarga korban kekerasan seksual anak di bawah umur mendatangi kantor Polres Sampang untuk mempertanyakan tidak lanjut penangkapan pelaku. (Foto: Jamaluddin)

KABAR SAMPANG | Dua lembaga swadaya masyarakat (LSM) yakni, Madura Development Watch (MDW) dan Jaringan Kawal Jawa Timur (Jaka Jatim), menggelar audiensi ke kantor Polres Sampang. Mereka mendampingi orang tua korban mempertanyakan penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur asal Kecamatan Torjun, Selasa (8/6/21).

Bahkan menilai, penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak umur 4 tahun lamban. Hal itu diketahui, dari rentan waktu pelaporan tertanggal 13 Februari 2021. Namun, hingga saat ini tidak ada perkembangan dari penanganan kasus tersebut.

Kedatangannya ditemuai, Kasat Reskrim Polres Sampang AKP Sudaryanto, Kasat Intel AKP Khoirul Anwar, dan penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Aipda R Sukardono. Keluarga korban yang enggan disebut namanya menuntut pihak kepolisian agar segera melakukan penangkapan terhadap pelaku yang masih paman korban.

Kronologi awal kejadian tersebut, ketika dirinya masih merantau di Malaysia. Mendadak mendengar informasi dari salah satu keluarganya perbuatan tidak senonoh yang dilakukan pamannya. Sehingga, memutuskan untuk pulang dari tempat rabtau. Setibanya di Sampang, ia melapor ke Polres Sampang.

Namun hingga saat ini tidak ada tindak lanjut. Padahal sudah memberikan keterangan saksi dan menyerahkan bukti yang dianggap bisa membantu proses penyidikan lebih mudah dan cepat.

“Saya rela kehilangan pekerjaan untuk menjaga keluarga saya. Tapi, pelaku belum ditangkap. Jadi saya harap pelaku ini segera ditangkap, kasian anak kami sudah sakit secara fisik dan mental, apalagi sering mendapat cemoohan dari lingkungan,” tutur keluarga korban.

Senada diungkapkan aktivis PPA MDW Sampang Siti Farida. Dia mengatakan, kedatangan dirinya ke Pokres untuk mendampingi keluarga korban dalam rangka mempertanyakan penanganan kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur. Sebab, dari waktu pelaporan hingga saat ini belum ada perkembangan apapun.

Padahal, bukti-bukti untuk dilakukan proses penyedikan sudah diserahkan. Sehingga, ia berasumsi bahwa polres terkesan tidak serius menangani kasus.

“Padahal Sampang katanya kabupaten peduli anak, tetapi kasus kekerasan terhadap anak sangat lamban ditangani,” ucapnya.

Ia menambahkan, berdasarkan pendampingan sebelumnya pelaku atas nama Dulhari yang sudah dua kali melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap korban sudah ditetapkan sebagai daftar pencairan orang (DPO) pada 28 Mei 2021. Hanya saja, belum dilakukan penangkapan.

“Polres lamban tangani kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur, karena sudah lima bulan dari pelaporan tidak ada perkembangan sama sekali. Mau jadi kabupaten layak anak bagaiman kalau penanganan kasusnya saja lelet seperti ini,” cetusnya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sampang AKP Sudaryanto menjelaskan, kasus kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur masih dalam proses pengembangan lidik. Bahkan, pelaku masih dalam proses pengejaran oleh anggota Resmob Polres Sampang. Diakuinya, untuk melakukan pencairan sudah ada tiga lokasi yang dicurigai dijadikan tempat persembunyian.

Pihaknya berjanji, meski cukup kusulitan untuk melakukan penangkapan tidak akan menyerah, dan secepat mungkin pelaku akan ditangkap. Hanya saja, harus saling kerjasama termasuk dengan keluarga korban. Sehingha, jika mengatahui keberadaan pelaku harap dilaporkan.

“Bukan tidak ada perkembangan, karena ini memang atensi kami. Semaksimal mungkin, kami akan terus telusuri keberadaan pelaku ini, agar bisa ditangkap. Kami juga sudah bekerjasama dengan petugas yang ada di lapangan, tapi tersangka belum diketahui keberadaannya,” responya. (mal/ito)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *