Berangkat dari Kegagalan, M. Nasuri Sukses Buka Usaha Kerupuk Telur Asin

  • Whatsapp
M. Nasuri berhasil menjadi pengusaha kerupuk telur asin setelah dua kali mengalami kegagalan. (Foto: Jamaluddin)

KABAR SAMPANG | M. Nasuri, warga asal Desa Gunung Eleh Dusun Bangsal, Kecamatan Kedungdung Sampang sangat serius mencapai cita-citanya menjadi pengusaha. Terbukti ia berhasil menjadi pengusaha kerupuk telur asin setelah berkali-kali mengalami kegagalan. .

Owner Kerupuk Telur Asin Al-Mahmudi, M. Nasuri menyampaikan, sebelum mengelola kerupuk telur asin, pada tahun 2015 ia pernah beternak puyuh tetapi gagal. Kemudian, dilanjut ternak ayam Madura, tetapi keberuntungan belum memihak padanya.

Bacaan Lainnya

Ia mendapatkan titik terang ketika beternak bebek. Usahanya mulai berjalan, namun sempat ada kendala, karena tidak menemukan toko-toko yang bisa disetori telur bebeknya. Sehingga, muncul inisiatif telur bebek itu dijadikan telur asin.

Diakuinya, saat dijadikan telur asin, jumlah pembeli cukup banyak. Seiring perjalanan waktu, ia berinisiatif merintis usaha Kerupuk Telur Asin Al-Mahmudi.

“Usaha ternak ini ketiga kalinya, dua kalinya itu gagal. Cuma yang bebek ini sampai sekarang, dan alhamdulillah sekarang ada perkembangan dengan cara telur bebek itu dikelola jadi kerupuk telur asin. Jadi, sebelumnya kami bingung terkait telur bebek ini mau dikemanakan,” tuturnya kepada Kabar Madura, Kamis (27/5/21).

Ia  menceritakan, dengan dikelola jadi kerupuk telur asin tersebut keberuntungannya cukup signifikan. Sebab, telur bebek satu kilo yang biasanya dijual hanya Rp20.000 saat dikelola jadi kerupuk asin bisa dapat Rp100 ribu lebih. Cuma menurutnya, di situ ada biaya kemasan dan lain-lainnya.

Kemudian, untuk kemasannya masih tradisional, seperti cara melakukan pemotongannya masih menggunakan pisau. Sehingga, tidak bisa produksi banyak. Adapun pemesanan setiap harinya selalu ada, bahkan kadang mengirim ke Tranggalek, Bandung, Malang, dan empat kabupaten yang ada di Madura.

Selain itu, saat ditanya teknis pemasarannya ia mengaku dilakukan dengan cara jual online, selain itu untuk offline-nya didatangi ke toko-toko khususnya di Sampang, dengan cara menitip produk. Dari situlah akhirnya pemilik toko dengan sendirinya meminta kiriman. Adapun untuk omsetnya tidak banyak, karena inisiatif itu diterapkan pada tahun 2020 kemarin. Yang jelas, kalau untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup masih ada sisanya.

Pemuda lulusan Universitas Madura (Unira) Kabupaten Pamekasan itu selain disibukkan kelola usahanya ia masih mengajar sebagai guru Bahasa Inggris di berbagai lembaga yang ada di wilayahnya. Hal itu diyakini sebagai cara untuk mengabdi kepada masyarakat.

“Selain mengelola usaha ini, kami juga ngajar. Untuk mengatur waktu, paginya kami beri makan bebek, setelah itu berangkat ngajar, jadi untuk mengelola usaha ini saat libur saja,” pungkasnya. (mal/maf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *